paper pancasila
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pancasila
adalah idiologi bangsa Indonesia yang kekal abadi dan fundamental. Pancasila
memiliki nilai – nilai yang mengatur segala kehidupan berbangsa dan bernegara
di Indonesia. Dengan nilai – nilai tersebut masyarakat Indonesia diharapkan mampu
mewujudkan Negara Indonesia yang makmur dan sejahtera, yang terbebas dari
belenggu penindasan dan kekerasan baik itu bersifat internal maupun eksternal.
Diera
Globalisasi ini banyak berpendapat bahwa nilai – nilai pancasila kini sudah
semakin meredup, bagaikan sebuah lilin yang di hempas angin malam sepoi – sepoi
yang akan semakin meredup jika angin itu semakin kencang, begitu pula terhadap
nilai – nilai pancasila yang kini hilang ditelan zaman sudah hampir tidak
terlihat lagi. Itu terbukti dari banyaknya kasus dan perilaku menyimpang yang
dilakukan oleh bangsa Indonesia itu sendiri.
Banyak
kekerasan yang terjadi di Indonesia sepertihalnya kekerasan dalam rumah
tangga,kekerasan seksual dan bahkan kekerasan terhadap anak dibawah umur.
Selain itu juga perilaku menyimpang itu di lakukan oleh ujung tombak Negara
kita sendiri yaitu generasi muda bangsa ini, bisa dilihat dari banyaknya
pengrusakan dan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa anak muda Indonesia yang
berkedok sebuah demonstrasi. Selain itu tidak hanya generasi muda, tetapi
bahkan sampai seorang petinggi Negara mampu melanggar janjinya untuk
mensejahterakan rakyat demi kepuasan dirinya sendiri yang berujung korupsi
anggaran Negara.
Itu
sudah membuktikan bahwa nilai – nilai pancasila sudah tidak di tengok lagi oleh
sebagian bangsa kita. Itulah masalah yang sangat vital dan rawan terjadi pada
Negara Indonesia. Seberapa hilang atau
terhapuskah nilai – nilai dasar Negara
kita ,itu sudah tidak bisa diukur lagi. Maka disinilah peran kita bagi orang
yang masih sadar dan peduli terhadap kemajuan serta kehidupan bangsa kita yang
aman,damai,dan sejahtera. Mengimplementasikan nilai – nilai pancasila sebagai
paradigma kehidupan bermasyarakat,berbangsa, dan bernegara adalah hal yang
paling penting dilakukan demi terwujudnya kembali karakter bangsa kita yang
beridiologi pancasila.
Suatu
paradigma mengandung sudut pandang, kerangka acuan yang harus dijalankan oleh
ilmuwan yang mengikuti paradigma tersebut. Dengan suatu paradigma atau sudut
pandang dan kerangka acuan tertentu, seorang ilmuan dapat menjelaskan sekaligus
menjawab permasalahan dalam ilmu pengetahuan. Semakin lama istilah paradigma
semakin berkembang tidak hanya dibidang ilmu pengetahuan tetapi juga pada bidang yang lainnya seperti POLEKSUSBUDHANKAM.
Paradigma kini memiliki pengertian sebagai kerangka pikir,kerangka bertindak,
acuan, orientasi, sumber, tolok ukur, parameter, arah, dan tujuan dari sebuah
kegiatan. Dengan demikian paradigma menempati posisi tertinggi dan penting
dalam melaksanakan segala hal kehidupan manusia (Sucipta;2010).
1.2 Rumusan masalah
Dari beberapa bukti yang
dipaparkan tadi,dapat ditarik permasalahan yaitu; bagaimana penghayatan dan
pengamalan pancasila sebagai idiologi,pandangan hidup dan dasar negara ?. Bagiamana
bentuk nilai – nilai pancasila sebagai paradigma pembangunan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa,dan bernegara ?
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui penghayatan dan pengamalan bangsa Indonesia terhadap pancasila
sebagai idiologi, pandangan hidup dan dasar Negara.
2. Untuk
mengetahui bentuk nilai – nilai pancasila sebagai paradigma pembangunan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa,dan bernegara.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pancasila sebagai Idiologi
dalam suatu Negara
Idiologi merupakan tema yang
paling banyak dibicarakan dalam ilmu politik yang mengandung banyak komentar
maupun perdebatan. Perdebatan pendapat dan keyakinan berkenaan dengan idiologi semakin rumit dan melibatkan
kekuatan antar negara. Bagaimanapun konsep idiologi sarat dengan makna politik,
yang dengan demikian mudah jatuh ke dalam prasangka. Dalam banyak kejadian, ini
menjadi semacam pelatuk konflik antar pengamat idiologi. Idiologi merupakan
satu dari sekian banyak konsep yang paling meragukan dan sukar ditangkap, yang
terdapat dalam ilmu – ilmu sosial, tidak hanya karena beragamnya pendekatan
teoritis yang menunjuk arti dan fungsi yang berbeda ( Jorge Larrain:1966).
2.1.1
Makna
Ideologi
Seperangkat keyakinan tatkala
suatu bangsa mempercayai peran yang harus dimainkannya dalam berhubungan dengan
bangsa lain yang mempercayai watak yang berbeda dengannya. Dalam pengertian
yang netral, ideologi setidak – tidaknya mengandung prinsip – prinsip yang
koheren, komprehensip, dan jelas. Tidak semata – mata agar paham yang dikandung
ideologi mudah dipahami;namun lebih dari itu, idiologi selalu berprestasi untuk
dapat dipraktekan.
Dari
berbagai ahli.W.White merumuskan bahwa idiologi ialah soal cita – cita politik
atau doktrin (ajaran ) dari suatu lapisan masyarakat atau sekelompok manusia
yang dapat dibeda – bedakan. Sementara itu Harold H.Tinus mendefinisikan
ideologi sebagai suatu istilah yang dipergunakan untuk sekelompok cita – cita
mengenai berbagai macam masalah politik dan ekonomi serta filsafat sosialyang
dilaksanakan bagi suatu rencana sistematis tentang cita – cita yang dijalankan
oleh sekelompok atau lapisan masyarakat ( Ismaun;1972). M.Sastraprateja
mendefinisikan idiologi sebagai seperangkat gagasan atau pemikiran yang
berorientasi pada tindakan yang diorganisirmenjadi suatu system yang teratur (
Oetejo Usman;142).
2.1.2
Hakekat
dan Fungsi Idiologi
Pada hakekatnya ideologi tidak
lain adalah hasil refleksi manusia berkat kemampuannya mengadakan distansi
terhadap dunia kehidupannya. Antara ideologi dan kenyataan hidup masyarakat
terjadi hubungan dialektis, sehingga berlangsung pengaruh timbal balik yang
terwujud dalam interaksi yang mendorong masyarakat semakin mendekati bentuk
yang ideal. Ideologi bukanlah sekedar pengetahuan teoritis belaka, tetapi
menjadi sesuatu yang dihayati menjadi suatu keyakinan. Ada beberapa fungsi
ideologi yang dapat diuraikan, yaitu;
a) Struktur
Kognitif
Keseluruhan pengetahuan yang dapat merupakan
landasan untuk memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian – kejadian dalam
alam sekitar.
b) Orientasi
dasar
Dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta
menunjukan tujuan dalam kehidupan manusia.
c) Norma
– norma
Pegangan dan pedoman bagi seseorang untuk melangkah
dan bertindak.
d) Bekal
dan Jalan bagi seseorang untuk menemukan identitasnya.
e) Kekuatan
Kemampuan untuk menyemangati dan mendorong seseorang
untuk menjalankan kegiatan dan mencapai tujuan.
f) Pendidikan
Bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami,
menghayati serta memolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma –
norma yang terkandung didalamnya.
Ideologi berintikan serangkaian
nilai (norma) atau sistem nilai dasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam
yang dimiliki dan dipegang oleh suatu masyarakat atau bangsa sebagai wawasan
atau pandangan hidup mereka. Melalui rangkaian sistem itu, mereka mengetahui
bagaimana cara yang paling baik, yaitu secara moral atau normatif dianggap
benar dan adil, dalam bersikap dan bertingkah laku untuk memelihara,
mempertahankan dan membangun kehidupan duniawi bersama dengan berbagai
dimensinya ( Oetojo Oesman dan Alfian:1991)
2.2 Pancasila sebagai Pandangan Hidup
Pada zaman yang
gemilangnya kerajaan sriwijaya, majapahit dan mataram bangsa kita menghadapi
seribu-satu masalah yang harus dipecahkan dan diselesaikan. Lahirlah jawaban –
jawaban atas segala macam soal. Diketemukan juga cara – cara penyelesaian dalam
segala bidang kehidupan.
Segala jawaban yang berlaku
untuk masa yang panjang itu dijadikan nilai – nilai kehidupan. Kebenaran nilai
– nilai tersebut diyakini oleh umum dan dijadikan pegangan hidup. Setiap orang
berusaha dan bercita – cita untuk mewujudkan nilai – nilai yang dijadikan
petunjuk hidup itu.
Nilai – nilai itu
berkembang, baik di bidang kehidupan pribadi, maupun di bidang tata budaya dan
tata praja. Bangsa kita mengalami pula masa penderitaan akibat penjajahan oleh
bangsa – bangsa asing. Terjadi pula benturan – benturan dengan budaya – budaya
asing. Nenek moyang kita harus berusaha mengatasi segala penderitaan itu.
Mereka harus pula menangkal semua benturan dan tantangan. Dalam usaha mempertahankan
diri, nilai – nilai kebudayaan bangsa Indonesia makin berkembang, makin mantap
dan makin melembaga.
2.2.1
Manfaat
dan fungsi pancasila sebagai pandangan hidup Bangsa Indonesia
1.
Pancasila sebagai Pandangan Hidup;
a)
Membuat bangsa kita berdiri kokoh, tahan
terhadap segala ancaman, gangguan dan tantangan .
b)
Menunjukan arah tujuan yang akan dicapai
sesuai dengan cita – cita bangsa.
c)
Menjadi pegangan dan pedoman untuk
memecahkan masalah – masalah dan tantangan – tantangan di bidang politik,
ekonomi, social, dan budaya yang timbul dalam masyarakat yang makin maju.
d)
Memberikan kemampuan untuk membangun
diri sendiri.
e)
Menunjukan kepada bangsa kita gagasan –
gagasan mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik dan dicita – citakan.
f)
Memberikan kemampuan untuk menyaring
gagasan – gagasan dan pengaruh – pengaruh yang menyusup melalui teknologi
modern dan kebudayaan asing.
2.3 Pancasila sebagai Dasar Negara
Pancasila merupakan pandangan
hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa, karena itu pancasila diterima oleh
seluruh rakyat sebagai dasar Negara yang mengatur hidup ketatanegaraan.
Kenyataan
– kenyataan bahwa pancasila diterima sebagai Dasar Negara yang tampak dalam
sejarah;
a)
Dalam ketiga Undang – undang Dasar yang
pernah kita miliki Pancasila tetap tercantum sebagai dasar Negara. Sekalipun
mengalami perubahan rumusan namun pancasila selalu dikukuhkan dalam kehidupan
konstitusional itu.
b)
Pada saat – saat krisis nasional dan
ancaman berat terhadap kelangsungan hidup bangsa dan Negara kita, pancasila
selalu menjadi pegangan bersama.
c)
Pancasila selalu dikehendaki oleh bangsa
Indonesia sebagai dasar Negara. Dikehendaki sebagai Dasar Negara yang mampu
mempersatukan seluruh rakyat Indonesia.
2.4 Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila
Pancasila sebagai dasar Negara
Indonesia itu bukan hanya sekedar untuk diketahui saja. Kita harus
menghayatinya. Kita dengan sungguh – sungguh mendalami serta berusaha menyelami
arti dan makna sila – sila itu. Kita menggumuli kebenarannya melalui proses
perembesan batin, sehingga sila –sila itu tidak terpisahkan lagi dari pribadi
dan dari kehidupan kita sendiri. Kita berfikir, bercita – cita dan berbuat
sesuai dengan cita – cita yang terkandung dalam sila – sila itu. Yaitu lima
sila yang merupakan kesatuan yang bulat dan utuh ( kansil:1993).
Mengamalkan pancasila itu
tidak lain dari pada melaksanakan sesuatu yang berguna, baik atau luhur dalam
kehidupan sehari – hari. Terutama dalam mewujudkan masyarakat pancasila. Dalam
menegakkan dan mengatur Negara pancasila. Tugas luhur manusia Indonesia adalah
dengan kesungguhan hati dan penuh rasa tanggung jawab melaksanakan Pancasila
dalam perilaku sehari – hari.
Adapun
pangkal tolak yang utama untuk menghayati dan mengamalkan pancasila, yaitu;
1. Memupuk
serta mengembangkan kemauan dan kemampuan dalam mengendalikan diri dan
kepentingannya sebagai warga Negara dan warga masyarakat berdasarkan pancasila.
2. Kebahagiaan
hidup akan terwujud jika dikembangkan keserasian keselarasan dan keseimbangan.
Terutama dalam hubungan antara manusia dan masyarakat.
3. Berusaha
memperoleh kesatuan bahasa, kesatuan pandangan dan kesatuan gerak langkah dalam
memahami dan mengamalkan pancasila.
4. Pengamalan
pancasila didasarkan atas kemampuan dan kelayakan manusiawi. Tidak muluk –
muluk, tidak rumit, tetapi sederhana mudah dilaksanakan dan praktis.
Dengan
berpangkal tolak hal – hal tersebut kiranya kita mampu menghayati dan
mengamalkan Pancasila.
Pengamalan
Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat ,berbangsa, bernegara dapat dilakukan
dengan cara obyektif dan subyektif .
1. Pengamalan
pancasila secara obyektif
Pengamalan pancasila secara obyektif dapat berwujud
segala bentuk peraturan perundang-undangan secara hirarkhis dari UUD 1945 ,Tap
MPR , UU/ Perpu, PP, Kep.Pres, Perda, sampai ketingkat paling bawah yang ada
dilingkungan kita disekolah berupa tata tertib sekolah sebagai norma hokum yang
berlandaskan pancasila, tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai dasar dari
pancasila.
2. Pengamalan
Pancasila secara Subyektif
Pengamalan pancasila secara subyektif dengan jalan
mengamalkan nilai-nilai pancasila yang berwujud norma etik secara pribadi atau
kelompok dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan
bermasyarakat,berbangsa, bernegara.
2.5
Nilai–nilai Pancasila sebagai Paradigma
pembangunan dalam Kehidupan Bermasyarakat,Berbangsa,
Bernegara
Nilai yang bahasa inggrisnya
Value termasuk pengertian filsafat. Menilai berarti menimbang yaitu kegiatan
manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu, untuk selanjutnya mengambil
keputusan. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila sesuatu itu berguna,
benar, indah, baik, dan religius. Pancasila sebagai sumber nilai karena
memiliki : 1. Nilai kebenaran, 2. Nilai keindahan, 3. Nilai moral atau
estetika, 4. Nilai religius, 5. Nilai material.
Prof.Dr.Drs.Mr.Notonagoro,SH.
Membagi nilai menjadi tiga yaitu nilai vital,material dan kerohanian.
a) Nilai
Vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan
kegiatan atau aktivitas, alat yang dipergunakan untuk menyelesaikan tugas.
Seperti sabit untuk memotong rumput.
b) Nilai
Material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia, termasuk makan
dan minum.
c) Nilai
Kerohanian yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia, agama sebagai
sumbernya. Seperti sembahyang atau ibadah. Nilai kerohanian dapat dibedakan
menjadi ;
1.
Nilai Kebenaran yang bersumber pada
unsur akal manusia ( ratio,budi, cipta)
2.
Nilai keindahan yang bersumber pada
unsur rasa manusia
3.
Nilai Kebaikan atau Moral yang bersumber
pada unsur kehendak atau kemampuan manusia ( karsa , etika )
4.
Nilai Religius yang merupakan nilai
kebutuhan, kerohanian yang tertinggi dan mutlak. Nilai religius bersumber pada
kepercayaan atau keyakinan manusia.
Manusia yang mengadakan
penilaian terhadap sesuatu yang bersifat rohaniah menggunakan hati nuraninya
dengan dibantu oleh inderanya, akalnya, perasaannya, kehendaknya, dan
keyakinannya. Sampai sejauhmana kemampuan dan peranan alat-alat bantu ini bagi
manusia dalam menentukan penilaiannya tidaklah sama antara manusia yang satu
dengan yang lainnya. Dalam hubungannya dengan filsafat, nilai merupakan salah
satu pemikiran filsafat yang oleh pemiliknya dianggap sebagai hasil maksimal
yang paling benar, baik dan bijaksana.
Bagi
manusia, nilai dijadikan landasan, alasan, motivasi dalam segala perbuatannya.
Hal itu terlepas dari kenyataan bahwa ada orang-orang yang dengan sadar berbuat
lain dari kesadaran nilai dengan alasan yang lain pula. Dalam pelaksanaannya,
nilai itu dijabarkan dalam bentuk kaidah / ukuran sehingga merupakan suatu
perintah atau keharusan, anjuran, atau merupakan larangan atau tidak diinginkan
atau celaan.
2.5.1 Nilai – nilai yang terkandung
di dalam sila-sila Pancasila
Pancasila tergolong nilai
kerohanian, tetapi nilai kerohanian yang mengakui adanya nilai material dan
nilai vital. Dengan perkataan lain pancasila yang termasuk nilai kerohanian di
dalamnya terkandung pula nilai – nilai yang lain secara lengkap dan harmonis,
baik nilai material, nilai vital, nilai kebenaran, nilai estetis, nilai etis/
moral. Hal ini dapat terlihat dalam susunan sila – sila Pancasila yang
sistematis hierarkis, yang dimulai dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa sampai
sila Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Adapun
nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila adalah;
Sila
Ketuhanan Yang Maha Esa;
a) Keyakinan
terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifatnya yang Maha Sempurna,
Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Bijaksana, dan lain-lain sifatnya yang suci
b) Ketaqwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya
c) Nilai
sila I meliputi dan menjiwai sila II,III,IV,V
Sila
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab;
a) Pengakuan
terhadap adanya martabat manusia
b) Perlakuan
yang adil terhadap sesama manusia
c) Pengertian
manusia yang beradab yang memiliki daya cipta, rasa, karsa, dan keyakinan
sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan hewan
d) Sila
II diliputi dan dijiwai oleh sila I, serta menjiwai dan meliputi III,IV dan V
Sila
Persatuan Indonesia ;
a) Persatuan
Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia
b) Bangsa
Indonesia adalah persatuan suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia
c) Pengakuan
terhadap ke “ Bhineka Tungga Ika” an suku bangsa dan kebudayaan bangsa yang
memberikan arah dalam pembinaan kesatuan bangsa
d) Sila
III dijiwai oleh sila I,II,IV,V
Sila
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan
perwakilan;
a) Kedaulatan
Negara adalah ditangan rakyat
b) Pemimpin
kerakyatan adalah hikmah kebijaksanaan yang dilandasi akal sehat
c) Manusia
Indonesia sebagai warga Negara dan warga masyarakat Indonesia mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama
d) Musyawarah
untuk mufakat dicapai dalam permusyawaratan wakil-wakil rakyat
e) Sila
V dijiwai oleh sila I,II,III,V
Sila
keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia ;
a) Perwujudan
keadilan social dalam kehidupan social atau kemasyarakatan meliputi seluruh
rakyat Indonesia
b) Keadilan
dalam kehidupan social terutama meliputi bidang-bidang IPOLEKSUSBUDHANKAM
c) Cita-cita
masyarakat adil dan makmur, material dan spiritual, yang merata bagi seluruh
rakyat Indonesia
d) Keseimbangan
antara hak dan kewajiban,dan menghormati hak orang lain
e) Cinta
akan kemajuan dan pembangunan
f) Sila
ke V dijiwai oleh sila I,II,III,IV
2.5.2 Pancasila sebagai Paradigma
Pembangunan Dalam kehidupan Bernegara
Istilah paradigma pada mulanya
dipakai dalam bidang filsafat ilmu
pengetahuan. Menurut Thomas Khun , orang yang pertama kali mengemukakan istilah
paradigma menyatakan bahwa ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi oleh
suatu paradigma. Paradigma merupakan pandangan mendasar dari para ilmuan
tentang apa yang menjadi pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan. Dengan
demikian, paradigma sebagai alat bantu para ilmuan dalam merumuskan tentang apa
yang harus dipelajari, apa yang haru dijawab, bagaimana seharusnya dalam
menjawab dan aturan-aturan yang bagaimana yang harus dijalankan dalam
mengetahui persoalan tersebut.
Suatu
paradigma mengandung sudut pandang, kerangka acuan yang harus dijalankan oleh
ilmuan yang mengikuti paradigma tersebut. Dengan suatu paradigma atau sudut
pandang dan kerangka acuan tertentu seorang ilmuan dapat menjelaskan sekaligus
menjawab suatu permasalahan dalam ilmu pengetahuan.
Istilah
paradigma makin lama makin berkembang tidak hanya dibidang ilmu pengetahuan
saja tetapi juga pada bidang yang lainnya seperti politik,hokum,social,dan
ekonomi. Paradigma kemudian berkembang dalam pengertian sebagai kerangka pikir,
kerangka bertindak, acuan,orientasi,sumber,tolok ukur, parameter,arah dan
tujuan. Sesuatu dijadikan paradigma berarti sesuatu itu dijadikan sebagai
kerangka, acuan, tolok ukur, parameter, arah,dan tujuan suatu kegiatan. Dengan
demikian, paradigma menempati posisi tertinggi dan penting dalam melaksanakan
segala hal dalam kehidupan manusia (sucipta:2010).
Pancasila
sebagai paradigma pembangunan artinya nilai-nilai dasar Pancasila secara
normatif menjadi dasar, kerangka acuan dan tolok ukur segenap aspek kehidupan
dalam pembangunan nasional yang dijalankan Indonesia. Hal ini sesuai dengan
kenyataan obyektif bahwa pancasila adalah dasar Negara, maka tidak berlebihan
bila pancasila menjadi landasan atau tolok ukur dalam kehidupan bermasyarakat ,
berbangsa, dan bernegara termasuk didalamnya pelaksanaan pembangunan nasional.
Sehingga pancasila dijadikan paradigma dalam pembangunan nasional.
Tatanan
kehidupan masyarakat,bangsa,dan Negara berdasarkan pancasila sebagai paradigma
kehidupan,memiliki cirri-ciri seperti;
1. Tata
kehidupan politik demokrasi pancasila dan UUD 1945 dapat terlaksana dengan
wajar.
2. Tata
kehidupan ekonomi, demokrasi ekonomi berdasarkan UUD1945 pasal 33 dapat
terlaksana.
3. Tata
kehidupan budaya, dengan kebhinekaan budaya daerah dalam keekaan kebudayaan
nasional dapat berkembang .
4. Tata
kehidupan sosial, dimana perilaku individu dan social mencerminkan kecerdasan,
moral tinggi dan takwa pada Tuhan Yang Maha Esa dapat tumbuh dengan subur.
5. Tata
kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara berdasarkan Pancasila memiliki tata
kehidupan ilmu pengetahuan yang memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan dan
tekhnologi untuk memajukan dan mensejahterakan bangsa dan Negara.
6. Tata
kehidupan pengembangan sumber daya manusia harus menjamin usaha-usaha untuk
meningkatkan kualitas kemampuan dan kesejahteraan sumber daya manusia.
7. Tata
kehidupan lingkungan menjamin kelestarian flora, fauna dan sumber daya alam
lainya dalam kaitannya dengan pemanfaatannya dan pelestariannya bagi
peningkatan kemakmuran bangsa dan Negara.
8. Tata
kehidupan pertahanan keamanan nasional dapat menjamin terciptanya system
hankamrata, tegaknya aparatur Negara dan pemerintahan yang berkualitas, bersih,
berwibawa, bertanggung jawab, dan berintegrasi tinggi.
BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
Idiologi merupakan tema yang paling
banyak dibicarakan dalam ilmu politik yang mengandung banyak komentar maupun
perdebatan. Ideologi setidak – tidaknya mengandung prinsip – prinsip yang
koheren, komprehensip, dan jelas. Tidak semata – mata agar paham yang dikandung
ideologi mudah dipahami;namun lebih dari itu, idiologi selalu berprestasi untuk
dapat dipraktekan. Pada hakekatnya ideologi tidak lain adalah hasil refleksi
manusia berkat kemampuannya mengadakan distansi terhadap dunia kehidupannya. Ideologi
berintikan serangkaian nilai (norma) atau sistem nilai dasar yang bersifat
menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang oleh suatu masyarakat atau
bangsa sebagai wawasan atau pandangan hidup mereka.
Pancasila
merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa, karena itu
pancasila diterima oleh seluruh rakyat sebagai dasar Negara yang mengatur hidup
ketatanegaraan. Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia itu bukan hanya
sekedar untuk diketahui saja. Kita harus menghayatinya. Kita dengan sungguh –
sungguh mendalami serta berusaha menyelami arti dan makna sila – sila itu.
Istilah
paradigma makin lama makin berkembang tidak hanya dibidang ilmu pengetahuan
saja tetapi juga pada bidang yang lainnya seperti politik,hokum,social,dan ekonomi.
Paradigma kemudian berkembang dalam pengertian sebagai kerangka pikir, kerangka
bertindak, acuan,orientasi,sumber,tolok ukur, parameter,arah dan tujuan.
Sesuatu dijadikan paradigma berarti sesuatu itu dijadikan sebagai kerangka,
acuan, tolok ukur, parameter, arah,dan tujuan suatu kegiatan. Dengan demikian,
paradigma menempati posisi tertinggi dan penting dalam melaksanakan segala hal
dalam kehidupan manusia. Pancasila sebagai paradigma pembangunan artinya
nilai-nilai dasar Pancasila secara normatif menjadi dasar, kerangka acuan dan
tolok ukur segenap aspek kehidupan dalam pembangunan nasional yang dijalankan
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Dirjen.PT.2002. Pendidikan Pancasila (untuk Mahasiswa).Jakarta:Dirjen
Dikti
Kansil.C.S.T.1993.HidupBerbangsa dan Bernegara.Jakarta:Erlangga
Larrain,Jorge.1996.Konsep Idiologi,terjemahan Ryadi
Gunawan.Yogyakarta:LPKSM
Oesman.Oetejo,Alfian.1991.Pancasila
sebagai Idiologi.Jakarta:BP-7 Pusat
Sucipta,dkk.2010.Pendidikan Kewarganegaraan.Bali
makna hari raya galungan
Sekilas Tentang Hari Raya Galungan
dan Kuningan
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya
Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertama kali di Indonesia,
terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung
Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Budha Departemen Agama RI)memperkirakan,
Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu
popular dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa
Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya
Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan,
masih belum terjawab dengan pasti.
Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya”.
Artinya : Perayaan (upacara Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon (wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba -----entah apa dasar pertimbangannya----pada tahun 1103 saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan , konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relative pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan Samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya-----artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau bisikan religious dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Disamping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan ) Disebutkan pula,inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negative (Buta kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religious itu Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
MAKNA FILOSOFI GALUNGAN
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sundarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sundarigama dijelaskan sebagai berikut : Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan Patitis Ikang janyana Samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep artinya : Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang.bersatunya rohani dan pikiran dan pendirian yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sundarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.
Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan.
Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa disini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan Bhuana Agung (bumi ini) di luar diri manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).
Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan : Kalinggania amretista raga tawulan (oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing).
Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.
Pada Radite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun menganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jnana, artinya : mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan Samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan “Pangastawaning sang ngamong yoga Samadhi” pada hari Anggara Wage Wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.
Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis Wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengujungi sanak saudara sambil bergembira ria.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadighayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut bermakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa ? karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga ( Dewa mur mwah maring Swarga). Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.
MACAM-MACAM GALUNGAN.
Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad keabad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Galungan
Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan”, artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungunan. Jadi Galungan itu dirayakan setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan Wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.
Galungan Nadi
Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.
Disebutkan dalam lontar itu bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradiri di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahioleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.
GALUNGAN NARA MANGSA
Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sudarigama disebutkan sebagai berikut :
“Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran” artinya : bila wuku dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.
Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut :”Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tananuhut ring Bhatara, ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah”
Artinya : inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang ) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasangan rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalem (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.
Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa, Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilangsungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.
Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Pelaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai Kambing, pertarungan antara adharma melawan dharma. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.
GALUNGAN DI INDIA.
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, perayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara “Wijaya Dasami “di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”
Hari raya Wijaya Dasami di India disebut pula Hari Raya Dasara. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama Sembilan malam umat Hindu disana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya : Sembilan Malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh barulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk mesyarakat luas.
Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durga Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha di Indonesia dilukiskan serorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kesaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.
Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.
Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan kepada Sri Rama sebagai awatara Wisnu. Selama Sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambing kemenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Dilapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.
Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah diatas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.
Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika, pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah awatara Wisnu sebagai Dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh manusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.
Kemenangan lahir-bathin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.
(Artikel ini diambil dari buku Yadnya dan Bhakti Karya Drs. I Ketut Wiana yang diterbitkan Pustaka Manikgeni).
Langganan:
Postingan (Atom)

